Purwakarta – Semarak Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H SMA–MA Al-Muhajirin Pusat menjadi ruang bagi para santri untuk mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui karya dan kreativitas. Pada cabang Lomba Cipta Puisi, Muhyi Suwarta Wijaya, kelas XI IPA 1, berhasil meraih Juara 1 melalui karya berjudul “Rindu yang Menjelma Jejak”, sebuah puisi yang menggambarkan kerinduan kepada Rasulullah SAW sekaligus ajakan untuk menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan.
Kegiatan yang diikuti oleh para santri SMA–MA Al-Muhajirin Pusat tersebut berada di bawah arahan Kepala Sekolah H. Muhammad Fuad Mas’ud, Lc., M.H., dengan Muhammad Hiro sebagai Ketua Panitia. Pada cabang Cipta Puisi, Aji Setiaji bertindak sebagai dewan juri. Perlombaan ini tidak hanya menjadi ajang meraih prestasi, tetapi juga menjadi sarana penguatan literasi, kreativitas, dan pembentukan karakter Islami para santri melalui penghayatan terhadap akhlak Rasulullah SAW.
Prestasi Muhyi menjadi bagian dari komitmen SMA–MA Al-Muhajirin Pusat – Sekolah Integrasi Ilmu & Madrasah Kader Ulama dalam memberikan ruang kepada santri untuk berkembang dan berkarya. Melalui “Rindu yang Menjelma Jejak”, tersampaikan pesan bahwa cinta kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya tersimpan di dalam hati atau terucap melalui lisan, tetapi harus menjelma menjadi akhlak, kebaikan, dan jejak nyata dalam kehidupan.
RINDU YANG MENJELMA JEJAK
Karya: Muhyi Suwarta Wijaya – XI IPA 1
Juara 1 Lomba Cipta Puisi Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H
Ada rindu yang tidak lahir dari pertemuan
ia tumbuh dari kisah-kisah yang diwariskan
dari sholawat yang berulang
dari nama yang selalu disebut dengan penuh cinta
Muhammad
kami mengenalmu dari kelembutan yang mampu menundukkan kerasnya hati
dari sabar yang tetap berdiri ketika luka datang berkali-kali
dari tersenyum yang tidak kehilangan hangat bahkan ketika dunia sedang tidak ramah
mungkin akhlakmu tidak pernah menua
Ia tetap hidup di setiap tangan yang menolong
setiap lisan yang menahan diri dari menyakiti
Setiap hati yang memilih memaafkan meski sebenarnya mampu membalas
ya Rasulullah
di zaman yang ramai oleh suara-suara
kami ingin belajar darimu tentang tenang
di zaman yang sibuk mengejar perhatian
kami ingin belajar darimu tentang ikhlas
di zaman yang mudah marah
kami ingin belajar darimu tentang ramah
maka kami tahu mencintaimu
bukan hanya tentang menyebut namamu yang indah
cinta tidak cukup hanya untuk di hati
ia harus tumbuh menjadi jejak kehidupan

