--:--:--
Pesantren

Pengasuh Al-Muhajirin: Shalawat Menjadi Jalan Menghubungkan Hati dengan Rasulullah SAW

23 Agustus 2026 • Admin • 47 pembaca • 4 menit baca
Pengasuh Al-Muhajirin: Shalawat Menjadi Jalan Menghubungkan Hati dengan Rasulullah SAW

PURWAKARTA — Setelah sambutan Ketua Yayasan Al-Muhajirin, DR. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., Pengajian Wali Santri sekaligus penjengukan santri di Aula SDK Al-Muhajirin Pusat, Ahad (23/8/2026), dilanjutkan dengan kajian kedua yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, DR. KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

Dalam kajiannya, beliau mengangkat tema tentang keutamaan shalawat, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta pentingnya menjaga keterhubungan hati seorang mukmin dengan Rasulullah SAW.

Shalawat, Jalan Menghubungkan Diri dengan Rasulullah SAW

DR. KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA. menjelaskan bahwa salah satu bentuk shalawat yang sangat dekat dengan kehidupan seorang Muslim adalah shalawat yang dibaca di dalam shalat.

Beliau menyinggung pandangan dalam Mazhab Syafi'i yang memberikan kedudukan penting terhadap bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam tasyahud akhir. Hal tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan antara ibadah seorang Muslim dengan penghormatan dan kecintaannya kepada Rasulullah SAW.

Dalam kajian tersebut turut disampaikan keistimewaan Imam Syafi'i, ulama besar dari Quraisy yang memiliki keluasan ilmu sekaligus kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah SAW. Berbagai kisah ulama tentang Imam Syafi'i menjadi pelajaran mengenai pentingnya menjadikan shalawat sebagai bagian dari kehidupan dan perjalanan keilmuan seorang Muslim.

Para Sahabat Mengingat Rasulullah Setiap Saat

Menjawab pertanyaan mengenai peringatan terhadap Nabi Muhammad SAW pada zaman sahabat dan tabi'in, beliau menjelaskan bahwa kecintaan generasi terdahulu kepada Rasulullah tidak terbatas pada momentum atau waktu tertentu.

Para sahabat menjalani kehidupan dengan mengingat Rasulullah, mengamalkan ajarannya, meriwayatkan sunnahnya, serta menjaga kecintaan kepada beliau dalam keseharian.

Bahkan, begitu kuat rasa cinta dan rindu tersebut sehingga ketika nama Muhammad SAW disebut, hati mereka dapat tersentuh dan dipenuhi kerinduan.

Beliau juga menyinggung kitab 'Uddatus Salikin, yang pada bagian awalnya memuat shalawat-shalawat yang dinisbatkan kepada para sahabat. Hal tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana shalawat mendapat tempat penting dalam tradisi keilmuan dan spiritual umat Islam.

Perintah Shalawat Langsung dari Allah SWT

DR. KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA. kemudian mengingatkan jamaah tentang firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Menurut beliau, kemudahan seseorang dalam bershalawat merupakan salah satu tanda hidupnya iman dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Menariknya, Al-Qur'an juga menerangkan bahwa Allah SWT dan para malaikat memberikan rahmat dan mendoakan orang-orang beriman. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 43:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

"Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman."

Beliau mengajak jamaah melihat hubungan yang indah dari kedua ayat tersebut. Orang-orang beriman diperintahkan bershalawat kepada Rasulullah SAW, sementara Allah SWT memberikan rahmat kepada orang-orang beriman agar mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Shalawat dan Kebaikan Dunia-Akhirat

Dalam kajiannya, Pengasuh Pesantren menekankan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak dapat dipisahkan dari Rasulullah SAW. Untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, seorang mukmin harus menjaga hubungan kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu jalannya adalah melalui shalawat.

Beliau turut menyampaikan riwayat mengenai seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai seberapa banyak waktu doanya yang digunakan untuk bershalawat. Porsi tersebut terus ditambah hingga akhirnya seluruh waktu doanya diperuntukkan untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa dengan itu kegelisahan dan kebutuhannya akan dicukupkan serta dosanya akan diampuni.

Pesan tersebut memberikan motivasi kepada jamaah bahwa memperbanyak shalawat bukan sekadar amalan lisan, tetapi menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan, ketenangan hati, dan kedekatan kepada Allah SWT melalui kecintaan kepada Rasul-Nya.

Dari Shalawat Menuju Cahaya Keteladanan

Menutup kajiannya, DR. KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA. mengajak seluruh wali santri dan keluarga besar Al-Muhajirin untuk menjadikan momentum Rabiul Awal sebagai kesempatan memperkuat hubungan dengan Rasulullah SAW.

Shalawat hendaknya tidak berhenti pada lisan, tetapi diteruskan dengan mengikuti sunnah, akhlak, perjuangan, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan.

Terlebih bagi para santri, kecintaan kepada Rasulullah diharapkan menjadi benteng dalam menghadapi perubahan zaman dan perkembangan teknologi. Ilmu pengetahuan yang dimiliki harus berjalan bersama iman, adab, dan kecintaan kepada Nabi.

“Mudah-mudahan kita semua diberikan cahaya Rasulullah SAW,” menjadi salah satu doa yang menguat dalam kajian tersebut.

Pengajian wali santri ini pun menjadi lebih dari sekadar rangkaian kegiatan penjengukan. Pertemuan antara pesantren dan orang tua menjadi momentum untuk kembali menguatkan satu cita-cita bersama: mendidik generasi yang berilmu, berakhlak, mencintai Rasulullah SAW, serta memperoleh keberkahan dan rida Allah SWT.